Thursday, 3 November 2016

Khotbah Maleakhi 4:1-2a Hari Tuhan



Khotbah Maleakhi 4:1-2a

Pendahuluan
 Natal SM HKI Resort Bethesda

Nama kitab Maleakhi memiliki arti utusan Tuhan. Menurut Septuaginta nama Maleakhi adalah kata benda biasa yang artinya “utusanku”. Artinya yang kitab ini berisi Firman Tuhan yang disampaikan oleh utusan Tuhan. Nama utusan Tuhan dalam kitab ini tidak diketahui, Maleakhi melayani jemaat Yuda dalam periode antara proses pembangunan kembali Bait Suci dan pembaharuan jati diri yang religious yang sudah terjadi lima puluh tahun sebelumnya. Pada masa itu terjadi kekecewaan akan pengharapan hidup mereka yang tidak kunjung terpenuhi. Terjadilah kemerosotan iman pada kalangan imamat dan jemaat. Terjadi penyalahgunaan kultik religious dan kondisi social yang semakin tidak konsisten dengan kebenaran yang telah ditentukan bagi bangsa Yuda.

Kitab Maleakhi memberikan dorongan untuk membangkitkan kembali semangat mereka yang sudah jatuh dalamnya jurang kekecewaan dan keputusasaan. Kitab ini sekaligus mengkritik dan mengingatkan para pemimpin agama dan pemimpin negri agar konsisten menjalankan amanat yang telah diterimanya. Para pemimpin agama dan pemimpin negri sepatutnya memiliki tindakan kreatif untuk membangun integritas bangsanya, jangan menunjukkan bahwa mereka menjadi contoh yang tidak baik bagi bangsa Yuda.

Periode ini menunjukkan bahwa bangsa Yuda mengalami penderitaan akan kehidupan mereka sebagai bangsa yang dikasihi Allah, namun mereka mengalami ketidakadilan dibawah pejajahan bangsa Persia. Tuhan Allah mengingatkan mereka akan sikap bangsa Yuda dalam situasi yang sulit itu. Sebab dengan adanya situasi social yang tidak adil bukanlah menjadi alasan bagi bangsa itu untuk bersikap bahwa Allah tidak mengasihi mereka. Keadaan itu hendaknya jangan mengubah pengaharapan mereka menjadi keputusasaan, seolah-olah tidak ada lagi pengharapan kasih Allah. Penderitaan yang dialami bangsa itu, bukan menjadi akhir dari kasih Allah, sebab Allah akan menyatakan kasihNya dan keadilanNya untuk membela bangsa yang mengasihiNya dan tentunya akan memberikan hukuman bagi mereka yang tidak mengasihiNya.

Ada rasa cemburu dari sebagian masyarakat Yuda dengan melihat kenyataan bahwa orang-orang yang beritindak jahat bisa menikmati hidup mereka dengan kekayaan, kemakmuran dan juga kedudukan yang baik dalam kalangan masyarakat. Hal itu mengakibatkan ada dari bangsa Yuda menjadi terpengaruh akan ketidak baikan itu. Mereka menganggap Allah tidak peduli dengan keadaan mereka, sehingga mereka lebih memilih tidak ada gunanya lagi menyembah Allah. Akhirnya tindakan mereka dicemarkan dengan berlaku jahat, ada yang menceraikan istri mereka yang takut akan Tuhan, lalu mempersunting perempuan yang menyembah berhala. Orang-orang seperti ini juga akan memberikan persembahan mereka dari hasil pertanian dan hewan mereka yang paling buruk. Tindakan mereka menyatakan bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan jahat mereka. Mereka tidak takut lagi terhadap Tuhan, tidak ada lagi rasa hormat kepadaNya. Oleh karenanya, Firman Allah dalam Maleaki ini mengingatkan mereka akan konsekwensi yang akan diterima karena perbuatan-perbuatan mereka.

Kedatangan Hari Tuhan
Hari Tuhan (Yom Yahwe) adalah misteri sekaligus yang sudah digenapi Allah. Hari Tuhan bukan hanya sekedar hayalan semata, sebab dalam Kitab Perjanjian Lama sudah diungkapkan bagaimana kedatangan Hari Tuhan (Am.5:18-20, Yes.13:1-6, Yhz.7:2-13). Cara dan waktu kedatangan Hari Tuhan itu adalah misteri, dan yang tahu hanyalah Tuhan sendiri. Berbagai bentuk kedatangan hari Tuhan dalam kitab Perjajian Lama, antara lain:
a)  Hari Tuhan itu sebagai hari yang penuh ratapan dan pemusnahan (Yes 13:6, Am.8:3)
b)    Hari Tuhan itu kebengisan, dengan gemas dan murka yang menyala-nyala untuk membuat bumi menjadi sunyi dan memusnahkan daripadanya orang-orang berdosa (Yes.13:9, Yhz.30:3).
c)    Hari Kegelapan (Am.5:18, 8:9)

Pada sebagian umat yang setia melakukan yang baik dimata Allah akan sangat merindukan kedatangan Hari Tuhan. Hari Tuhan menjadi sesuatu hal yang dirindukan oleh umat Yuda, dengan harapan mereka beroleh keselamatan dari penderitaan yang mereka hadapi saat itu. Hari Tuhan menjadi hari yang penuh dengan pengharapan untuk beroleh kemerdekaan dari bangsa Persia yang menjajah mereka. Melalui Maleaki Allah menunjukkan keadilanNya, Ayat 1 dikatakan “Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka”. Hari Tuhan itu akan dan pasti datang pada waktuNya. Pada hari itu tidak ada yang bisa bersembunyi dari hadapanNya. Saat itulah akan memperoleh konsekwensi dari kegegabahn dan kefasikan yang telah diperbuat. Akan dibakar seperti jerami, mulai dari cabang sampai ke akar-akarnya akan dibumi hanguskan. Hari Tuhan itu adalah hari pembalasan akan segala tindakan yang menentang Allah. Hari Tuhan itu akan menjadi kegelapan bagi mereka yang tidak mau hidup setia dalam terang Allah.

Namun sebaliknya bahwa Hari Tuhan itu akan menjadi keselamatan bagi setiap yang taku akan Allah. Pada ayat 2a Firman Allah menyatakan “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya”. Konsekwensi ini tentunya akan menjadi sukacita bagi yang takut akan Tuhan. Sebab dengan gelapnya penderitaan dan kesusahan yang dialami dalam hidup takut akan Tuhan akan memperoleh cahaya surya kebenaran. Cahaya surya kebenaran itu ialah pancaran sinar kasih Allah yang memberikan energy sumber kehidupan. Dalam metafora ini, dinyatakan bahwa Allah layaknya matahari yang memberikan sinar berenergi, yang menerangi dan memberikan kehidupan. Tidak hanya itu, Allah akan memberikan kesembuhan pada sayapNya.

Refleksi
Wajar saja bangsa yang mengalami kesulitan akan mengharapkan kelepasan dari kesulitannya. Bangsa yang dijajah akan merindukan kemerdeakaan bangsanya.  pada masa kesusahan tentunya sangat mengharapkan datangnya pertolongan untuk membantu lepas dari kesusahan yang dihadapinya. Bangsa yang masih tinggal dalam kemiskinan akan merindukan kesejahteraan. Seseorang yang mengetahui bahwa dirinya ada dalam kekurangan akan berusaha untuk mengatasi kekurangannya. Namun bagaimana untuk memperoleh itu semua? Apakah dengan berlaku curang? Seperti langkah yang dipilih oleh mereka yang tidak cemburu melihat ketidakadilan? Tentunya tidak, keadaan yang tidak baik akan dapat dirubah dengan tindakan yang baik menuju kebaikan yang akan dicapai. Sebab untuk merubah kemiskinan menjadi kekayaan dengan jalan yang tidak jujur akan menambah nilai kemiskinan itu semakin dalam. Tetapi dengan mengubah kemiskinan dengan cara dan proses yang jujur akan mencapai kekayaan yang sejati, walaupun menurut ukuran social ekonomi masih tergolong miskin, namun dalam karya-karyanya akan menujukkan kekayaan yang bersinar. Demikian halnya dengan bangsa Yuda, ada yang tidak setia melakukan yang baik untuk mencapai kebaikan sejati, yakni dengan melakukan kejahatan dimata Tuhan. Sebab bagaimana mungkin datang kebaikan dari Allah dengan melakukan yang jahat dihadapanNya? namun sebaliknya yang tidak menghormati Allah dengan berlaku tidak baik itu akan memperoleh hukuman pada Hari Tuhan yang sudah pasti kedatangannya. Jadi tetaplah setia berlaku baik dihadapan Allah, maka pada kedatangan Hari Tuhan akan beroleh berkat keselamatan.

Allah mengasihi manusia yang diciptakan-Nya. Allah menginginkan seluruh manusia ciptaanNya beroleh keselamatan dan lepas dari hukuman. Hari Tuhan tidaklah menjadi hari yang kelam bagi setiap orang yang percaya dan setia padaNya. Sebab kedatangan Tuhan Yesus Kristus menjadi keselamatan bagi seluruh orang yang percaya padaNya. Didalam Kristus ada pengampunan dan keselamatan serta hidup yang kekal. Didalam Dia ada terang sepanjang masa, tentunya dengan kedatangan Tuhan Yesus, Hari Tuhan menjadi hari yang indah bagi setiap orang yang hidup dalam takut akan Tuhan. Amin

Semoga terberkati, baca juga Khotbah 2 Tesalonika 3:6-13 Menanti Kedatangan Tuhan Yang Kedua kalinya dengan benar

Duri, 04 November 2016

Tuesday, 1 November 2016

Khotbah Lukas 19:1-10 Bertemu Yesus Bertobat dan Beroleh Keselamatan

http://solascrip.blogspot.co.id/2016/11/khotbah-lukas-191-10-bertemu-yesus.html
Sekilas Tentang Zakheus
Tuhan Yesus berjalan menyampaikan kabar sukacita keselamatan. Dalam perjalanan Tuhan Yesus dalam perikop ini, Dia memasuki kota Yeriko, disana Ia bertemu dengan seorang yang bernama Zakheus. Arti nama Zakheus ialah yang murni dan saleh. Pada masa itu, ia bekerja sebagai kepala pemungut cukai. Tentunya dengan pekerjaan itu ia adalah seorang yang berada atau seorang kaya sekaligus orang yang tidak disukai orang-orang Yahudi karena seorang pemungut cukai adalah kaki tangan penjajah yakni bangsa Romawi. Namun ada kerinduan yang luar biasa dalam diri Zakheus untuk bertemu dengan Tuhan Yesus.

Keterangan Aplikatif

Siapa saja dapat bertemu dengan Tuhan
Secara manusiawi dengan mengandalkan rasio, maka akan cukup susah bertemu dengan Tuhan yang Transenden (Yang memiliki jarak yang jauh dari manusia). Namun dalam iman manusia, Allah itu Omnipresent (Maha Hadir), kehadiran Allah tidak tidak dapat dipenjarakan oleh ruang dan waktu, atau oleh apapun, sebab Allah berkuasa atas segala sesuatu. Keinginan besar Zakheus disertai dengan semangatnya untuk bertemu dengan Tuhan Yesus adalah hal yang patut ditiru. Bukan tidak mungkin Zakheus memiliki tantangan besar hanya untuk melihat Tuhan Yesus. Namun dia tidak mempedulikan semuanya itu, aspek social tidak dia pedulikan hanya untuk bertemu dengan TuhanYesus.

Seperti kedatangan Tuhan ke kota Yeriko seperti itulah Tuhan Yesus senantiasa hadir dalam setiap kota, desa dan tempat. Artinya Tuhan Yesus berada bersama-sama dengan kita, berinteraksi dengan kita. Hanya tidak sama dengan zamannya Zakheus pada masa periode Allah menjadi manusia. Jadi masa ini, diperlukan iman yang tetap berinteraksi dengan Tuhan Yesus, yakni dengan berdoa, ibadah, dan menyatakan kehendak Allah dalam setiap sendi kehidupan, disini dan kini siapapun dapat bertemu dengan Tuhan.

Keterbatasan manusia memerlukan usaha yang lebih
Kebiasaan kurang baik seseorang yang belum pernah melakukan sesuatu hal akan senantiasa pesimis bahwa tidak akan sanggup melaksanakan sesuatu hal. Akhirnya banyak yang menyerah sebelum pertandingan dimulai, kalah sebelum berlomba menjadi awal kegagalan seseorang. Banyak juga yang menyatakan bahwa disana saya tidak bertemu Tuhan Yesus, disini saya tidak merasakan kehadiran Tuhan Yesus. Hal tersebut membuat seseorang akan membandingkan antara sekte yang satu dengan yang lain, bahkan membandingkan antara agama yang satu dengan agama yang lain. Keterbatasan pemahaman ini sebenarnya sudah diterobos oleh Tuhan Yesus ketika hadir di dunia ini menjadi manusia, terkhusus dalam perikop ini Tuhan Yesus bertemu dan berinteraksi dengan Zakheus. Hal itu tidak mungkin dalam pikiran seseorang pada konteks itu, namun bagi Allah yang Omnipresent tiada yang mustahil.

Namun perlu dilihat usaha apa yang dilasanakan oleh Zakheus? Kerinduan Tuhan Yesus bertemu dengan umat manusia yang berdosa dibalas dengan kerinduan oleh Zakheus yang juga seorang yang berdosa dihadapan Allah. Padahal “dosa” itu adalah keterbatasan sekaligus pembatas hubungan manusia dengan Allah. Namun, dosa itu tidak mampu membatasi kasih Allah tidak mampu membendung kerinduanNya untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ya itulah kata kuncinya, Allah begitu mengasihi manusia. Dengan demikian hanya didalam kasih Allah sajalah kita dapat bertemu dengan Allah. Oleh karena itu, berusalah lebih lagi untuk hidup didalam kasih Allah. Maksudnya berusaha lebih lagi hidup di dalam kasih Allah itu, antara lain ialah:
a)     Jika Tuhan mengasihi kita, maka kita harus berusaha hidup dalam kasihNya, maka didalam kasihNya kita akan bertemu.
b)    Jika kita tahu Tuhan itu adalah mengampuni kita, maka kita juga harus berusaha menjadi seorang pengampun, maka kita juga akan bertemu didalam pengampunanNya.
Simplenya, jika ingin bertemu dengan Tuhan Yesus melalui keterbatasan kita sebagai manusia, berusahalah lebih giat lagi untuk hidup seturut kehendakNya, kehendak Allah yang ingin bertemu dengan manusia yang terbatas akan menjadi gayung bersambut dengan usaha kita yang lebih untuk bertemu denganNya. Sebab Tuhan melihat kelubuk hati yang terdalam, Tuhan sangat tahu isi hati kita. Dengan demikian, dimanapun kita berada disana jugalah Tuhan berada, seperti yang Tuhan Firmankan “Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai akhir jaman.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk turun
Zakheus yang memanjat pohon Ara, dipanggil Tuhan Yesus untuk turun. Hal ini dapat diartiakan dengan pengubahan pemahaman manusia yang menyatakan bahwa “hanya pada saat naik ke sorga saja dapat bertemu dengan Tuhan”, namun Tuhan menyatakan bahwa Zakheus tidak harus naik untuk bertemu denganNya, dibawah atau di bumi ini juga kita dapat bertemu dengan Tuhan Yesus, sebab Dia Immanuel (Allah yang Maha hadir dan berkuasa dalam ruang dan waktu). Berikutnya Tuhan Yesus memanggil Zakheus turun dari ketinggian pohon itu memiliki makna bahwa, dengan tinggi hati mungkin kita hanya melihat Allah, namun dengan kerendahan hati, maka kita akan bersama-sama Allah. sama halnya dengan Sakeus, ketika dia tetap berada diketinggian pohon itu, maka dia akan bisa melihat Yesus tetapi tidak bersama-sama Yesus, berbeda halnya ketika Zakeus mengikuti permintaan Yesus untuk mengajaknya turun dari pohon ara itu, Zakeus tidak hanya melihat Yesus atau hanya sebagai penonton, tetapi dia ikut dan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Yesus memanggil kita untuk turun dari ketinggian itu, agar kita tidak hanya melihat Tuhan Yesus tetapi bersama-sama denganNya.

Ajakan Tuhan Yesus ini, mengajak kita untuk turun (ikut langsung menjadi pekerjaNya), tidak cukup hanya mengatakan kasih, tanpa berbuat kasih dengan kemampuan kita masing-masing. Dengan ikut turun menjadi pekerja Allah, maka disana juga kita akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Jadi, jangan tunggu hari kebangkitan (hari kedatangan Tuhan Yesus yang keduakali) atau menunggu hari tua atau menunggu hari kematian kita mendekat untuk bertobat, tetapi dsinilah waktunya bukan disana dan nanti, sebab Tuhan telah turun dan hidup bersama-sama dengan kita.

Yesus meminta menghadiri rumah kita
Tuhan Yesus meminta akan hadir dirumah Zakheus, tentunya dengan respon Tuhan yang penuh kasih itu, Zakheus sungguh sangat bersukacita. Ya… setiap rumah tangga tidak usah mengundang Yesus datang kerumah, namun Tuhan Yesus rindu untuk datang kerumah kita, tinggal bagaimana respon kita menyambut Tuhan? Tuhan Yesus dan kuasa kasihNya ada setiap rumah orang yang mau menyambutNya. Dia juga berada disetiap ruang rumah kita, maka diruang mana-pun kita berada, layanilah Tuhan dengan baik. Tentunya dengan penuh sukacita, menjamu Tuhan dengan sebaik-baiknya. Melayani Tuhan dengan sebaik-baiknya ialah dengan mengikuti ajakan Tuhan dan menghidupinya. Demikianlah setiap rumah tangga sambutlah Tuhan Yesus dirumah masing-masing, dan layanilah Dia dengan senang hati.

Yang menerima Tuhan Yesus memperoleh Perubahan (Pertobatan) dan keselamatan
Zakheus yang menerima Tuhan Yesus beroleh berkat kasih Allah. Secara langsung dia mengalami perubahan kearah yang baik yang diinginkan Tuhan darinya (bertobat). Karena dia seorang yang kaya, maka dia akan menggunakan kekayaannya untuk berbuat kasih. Perubahan yang dialami Zakheus tentunya memotivasi kita untuk menyadari bahwasanya setiap orang yang bertemu dan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Orang Kristen Yang Percaya) akan berlaku baik dengan menolong sesama. Dia memperoleh keselamatan dari Tuhan, dan melaksanakan keselamatan itu dengan bermurah hati serta ingin menolong orang lain. Seorang pemungut cukai yang kaya dan memiliki jabatan strategis dalam pemerintahan Romawi yang menjajah telah memperoleh berkat itu, tentunya saudara, saya dan dan seisi rumah kita juga bukan? Kalau Zakheus aja bisa, kenapa kita tidak? Amen

Baca juga Khotbah Lukas 20:27-38 Kebangkitan dan Kehidupan Kekal

Khotbah Lukas 20:27-38 Kebangkitan dan Hidup Kekal



PENDAHULUAN
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan YesusKristus, untuk menambah pemahaman tentang perikop ini, sangatlah perlu melihat siapa dan bagaimana orang Saduki. Kaum Saduki sering disebut dalam Alkitab bersama dengan kaum Farisi, namun dalam kenyataannya kedua golongan ini terpisah dan memiliki pandangan yang berbeda bahkan bertentangan dalam segala hal. Kaum Saduki hanyalah kaum kelompok kecil, tetapi memiliki pengaruh. Utamanya mereka terdiri dari imam yang terkemuka di Bait Allah di Yerusalem dan juga golongan-golongan yang paling berada dari masyarakat Yahudi. Mereka sangat konservatif dalam segala hal dan membenci perubahan dalam bentuk apapun, terutama yang dapat mempengaruhi posisi dominan mereka di masyarakat. Kemungkinan mereka percaya akan kedatangan mesias, namun mereka tidak mau melancarkan protes-protes politik. Hal itu akan memnimbulkan persoalan dengan pihak Roma.
http://solascrip.blogspot.co.id/2016/11/khotbah-lukas-2027-38-kebangkitan-dan.html


Nama Saduki mungkin sekali berarti “Putra Zadok” (2 Sam.15-24-29), walaupun kaum Saduki pasti bukan langsung keturunan Zadok yang disebut dalam Perjanjian Lama. Dalam bahasa Ibrani yang berarti “interitas moral” atau yang berarti “kebenaran” (tsaddiq) atau kata Yunani “Sundikhoi” yang berarti “anggota-anggota dewan”. Bisa dilihat bahwasanya anggota Sanhedrin yang terdiri dai tujuh puluh anggota kebanyakan kaum Saduki.

Jika kaum Saduki dianggap kaum konservatif secara politik, maka pengertian mereka terhadap agama Jahudi dapat disebut reaksioner. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya pengajaran agama yang berwibawa hanya Taurat yang diberikan Musa dalam kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Oleh karenanya, mereka kurang mempedulikan kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Kaum Saduki tidak percaya akan kepercayaan Yahudi secara umum bahwa Allah mempunyai tujuan dibalik peristiwa-peristiwa sejarah, termasuk hal kehidupan kekal, kebangkitan kembali dan penghakiman terakhir. Maka dalam perikop ini, terjadilah interaksi kaum Saduki dengan Tuhan Yesus, tentang kebangkitan.

KETERANGAN
Pertanyaan Saduki Tentang Kebangkitan (27-33)
Saduki berusaha mencobai Tuhan Yesus dengan memperhadapkan antara pemahaman yang satu dengan yang lainnya yang tertera dalam kitab suci. Usaha mereka bertujuan agar Tuhan Yesus ikut dengan pemahaman mereka dan menyatakan pemahaman yang lain itu salah. Orang Saduki jelas tidak percaya akan kebangkitan setelah kematian. Cara pandang mereka dapat dilihat dari kesaksian Alkitab ayat 27 dalam pasal ini. Selanjutkan mereka menyatakan pandangan mereka dengan bertanya kepada Tuhan Yesus dengan membuat hubungannya dengan Taurat yang disebutkan oleh Musa tentang Hukum Perkawinan Levirat (Ulangan 25:5-6, Rut 3:9-4:12). Dikatakan bagaimana mungkin ada kebangkitan jika dilihat dari sisi Taurat tentang perkawinan antara seorang wanita dengan tujuh orang yang bersaudara secara bergantian. Awalnya wanita itu menikah dengan si sulung, selanjutnya menikah dengan sinomor dua, dan begitu selanjutnya sampai kepada saudaranya yang ketujuh, lalu mereka mati dan tidak ada anak diperoleh dari perempuan itu sebagai keturunan. Dari ketujuh bersaudara itu, siapakah yang akan menjadi suami dari perempuan itu pada saat kebangkitan?

Pertanyaan Saduki itu, menjadi bukti bahwasanya mereka memahami kehidupan setelah kematian dan kebangkitan itu sama sekali tidak mungkin, sebab bagaimana mungkin kebangkitan itu terjadi, padahal sudah selesai dari hidup. Padangan mereka yang rasinal itu juga ditambahi dengan ketidak percayaan mereka akan adanya roh. Itulah sebabnya mereka lebih mengandalkan kedagingan untuk memahami hidup. Sudah barang tentu akan sulit percaya dengan kebangkitan, sebab pada prosesnya juga, seorang yang sudah mati akan kembali menjadi tanah. Bagaimana mungkin tanah itu bangkit menjadi manusia kembali dan menjalani kehidupannya sama halnya dengan kehidupan di bumi. Adanya perkawinan, artinya keberadaan yang sama antara kehidupan di bumi ini dan setelah kehidupan setelah kebangkitan. Penggunaan Hukum Taurat yang tertulis dalam kelima kitab Musa (Pentateukh) menjadi dasar utama kaum Saduki untuk membuat penilaian terhadap ajaran-ajaran yang ada termasuk ajaran tentang kebangkitan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Jawaban Tuhan Yesus Tentang Kebangkitan (34-36)
Sangatlah berbeda pemahaman yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang kebangkitan, dengan pemahaman yang diharapkan oleh kaum Saduki. Yesus menngatakan bahwa tidaklah sama antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah dibangkitkan, didalam dunia ada perkawinan sementara kehidupan setelah kebangkitan tidak ada lagi yang demikian. Manusia yang dibangkitkan tidak akan mati sama dengan malaikat. Dari jawaban yang diberikan Tuhan Yesus tersebut, kita akan memperoleh pengertian bahwasanya tidak akan mampu sisi kemanusiaan kita untuk memahami rancangan kebangkitan itu. Perlu diketahui bahwasanya kedatangan orang Saduki sekaligus ingin menguji konsep pemahaman mereka yang tidak mengakui adanya kebangkitan setelah kematian. Sehingga jawaban Tuhan Yesus tersebut “ibarat senjata makan tuan” atau melempar ban yang berisi angin, sehingga pada saat dilempar akan memantulkan benda yang dilemparkan tersebut. Maksud orang saduki yang mencari pembenaran akan pemahaman mereka yang sesat memperoleh balasan jawaban yang penuh berkat bagi orang Saduki, jika mereka mau percaya dengan jawaban Tuhan Yesus.

Allah Yang Hidup Bagi Orang Yang Hidup (37-38)
Kembali Yesus juga menyampaikan ajaran Musa, bahwasanya Musa juga percaya akan kebangkitan hidup ketika ia berbicara mengenai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub yang masih hidup sebelum dia. Bukan hanya kaum Saduki, secara umum Yahudi mengakui bahwa Allah yang benar-benar Allah itu ialah Allah yang disembah oleh nenek moyang mereka, yakni Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Seluruhnya itu tertulis juga dalam kelima kitab Musa. Tentunya keterangan ini kembali merongrong pemahaman Saduki tentang kebangkitan dan kehidupan yang kekal. Sebab mereka mengakui bahwasanya Allah yang mereka sembah itu adalah Allah yang ada dan nyata. Dengan demikian Allah itu bukan mati dan bukan Allahnya orang mati. Allah itu hidup dan Allah orang hidup. Dengan percaya kepada Allah maka akan memperoleh kehidupan yang diberikan oleh Allah itu sendiri, setelah kematian maka akan ada kebangkitan hidup. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh Tuhan Yesus sendiri yang mati dan bangkit pada hari ketiga. Kebangkitan Tuhan Yesus menjadi jaminan kebangkitan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya.

KESIMPULAN
Bukan hanya Yesus yang bangkit dari kematian, namun semua orang juga akan bangkit. Yesus mematahkan ketidak percayaan kelompok Yahudi dalam perikop ini. Pernyataan ini juga diikuti dengan kepastian yang disampaikan oleh Tuhan Yesus Kristus “Akulah kebangkitan dan hidup , barangsiapa yang percaya kepadaKu ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25). Demikian juga yang disampaikan oleh Petrus bahwa Allah telah melahirkan kita kembali oleh kbangkian Yesus Kristus dari antara orang mati, suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Petrus 1:3).

Dengan tidak terkecuali, semua orang akan dibangkitkan. Namun bukan berarti seluruhnya memperoleh kebangkitan dalam berkat. Yesus berbicara tentang “kebangkitan untuk kehidupan yang kekal”, tetapi juga “kebangkitan untuk penghukuman” (Yohanes 5:29). Ajaran Perjanjian Baru tegas, bahwasanya semua akan dibangkitkan, namun siapa yang tidak percaya akan memperoleh kebangkitan dengan memperoleh kepahitan yang mutlak. Sedangkan untuk orang percaya akan memperoleh sukacita dan kegembiraan abadi.

Janganlah hanya memikirkan yang ada dalam dunia ini. Benar bahwa kita masing berada diduania ini, namun kita bukan berasal dari dunia ini dan tidak akan selamanya berada di dunia ini. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Hidup di dunia ini menjadi satu persiapan menuju asal kita yakni Allah itu sendiri.

Bagi setiap orang yang percaya baiklah menggunakan rasio untuk hal yang rasionil. Namun untuk memahami Allah tidaklah sanggup dengan rasio kita, bahkan orang beriman sekalipun tidak akan sanggup untuk memahami karya kebesaran Allah. Sebab Allah itu bukan untuk dipahami, namun Allah itu untuk dipercaya (diimani) sampai kita menuju kehidupan yang kekal itu.

Baca Juga Khotbah Mazmur 17:1-9 Berdoalah Didalam Kebenaran

Duri, 03 November 2016
Rev.Edward Manalu, S.Th